www.mediapos.id – Oleh: Noorhalis Majid
Setelah pidato Presiden Prabowo yang menyentuh isu kesemrautan di kota Samarinda dan Banjarmasin yang disebabkan oleh spanduk, reklame, dan baliho, pemerintah mulai melakukan penertiban. Langkah ini diambil untuk memperbaiki wajah kota dan menciptakan lingkungan yang lebih tertib dan indah.
Di Samarinda, pemerintah setempat menunjukkan pendekatan yang lebih arif. Sebelum melakukan tindakan penertiban, mereka mengundang semua pengusaha periklanan untuk berdiskusi mengenai sindiran dari Presiden, menciptakan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki izin yang belum lengkap.
Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa pengusaha reklame akan menertibkan spanduk dan baliho yang tidak berizin. Hasilnya, tercipta kerjasama yang harmonis antara Dinas Perizinan, Satpol PP, dan pengusaha, sehingga semua pihak merasa nyaman dan memiliki peran dalam upaya penataan kota.
Sementara itu, situasi di Banjarmasin cukup berbeda. Pemerintah daerah di sana tidak menunjukkan keinginan untuk melakukan dialog. Sebaliknya, mereka langsung merilis pernyataan keras di media massa yang menandakan kesiapan untuk menertibkan baliho ilegal tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu.
Pernyataan tersebut terasa arogan dan tidak nyaman bagi banyak pihak. Sebagai pemerintah, peran mereka seharusnya lebih mirip dengan figur orang tua, yang diharapkan dapat mendidik dan membina masyarakat dengan cara yang konstruktif.
Dalam hal ini, dialog antara pemerintah dan pengusaha dapat menjadi solusi yang lebih baik. Mencontoh Samarinda, mengundang pengusaha untuk berdiskusi bisa membantu memastikan bahwa penertiban dilakukan secara adil dan menyeluruh, sehingga kota dapat menjadi indah dan estetik.
Dialog Sebagai Solusi untuk Masalah Periklanan di Banjarmasin
Dialog merupakan langkah strategis yang penting untuk mengatasi berbagai persoalan di kota Banjarmasin yang heterogen. Terutama dalam konteks periklanan, semua kepentingan harus terakomodasi agar tidak ada pihak yang merasa terpinggirkan.
Dengan dialog yang terbuka, para pemangku kepentingan dapat membicarakan masalah estetika kota secara terbuka, tanpa adanya pemaksaan dari satu pihak. Hal ini akan memudahkan semua pihak dalam mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
Ketika pemerintah berkomitmen untuk mendengarkan, mereka dapat menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak. Misalnya, pemerintah dapat memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD), sementara pengusaha dapat melanjutkan usaha mereka tanpa tertekan oleh aturan yang tidak jelas.
Penting juga untuk diingat bahwa industri periklanan menciptakan banyak lapangan kerja. Di balik setiap spanduk dan reklame, ada desainer, percetakan, tenaga pemasangan, serta berbagai pekerjaan lain yang semuanya memberikan kontribusi pada perekonomian lokal.
Menciptakan Ekosistem Kerja yang Sehat di Banjarmasin
Dalam konteks kesemrautan kota, himbauan dari Presiden memang perlu disikapi dengan bijak. Budaya Banjar memiliki ungkapan, “jangan samunyaan ditaguk,” yang berarti bahwa setiap pernyataan perlu dipahami dengan seksama sebelum diambil tindakan.
Ketika tindakan diambil tanpa pertimbangan mendalam, dampaknya bisa merugikan banyak pihak. Jika pemerintah mengambil langkah tegas tanpa dialog, akan banyak warga yang kehilangan pekerjaan, yang akhirnya juga merugikan pemerintah sendiri.
Penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan dampak dari tindakan mereka. Membuka lapangan kerja baru serta memperkuat yang sudah ada lebih bermanfaat daripada sekadar menghancurkan tanpa solusi yang jelas.
Dengan berbagai lapangan pekerjaan yang diciptakan oleh pengusaha periklanan, pemda perlu memastikan bahwa inisiatif untuk menata kota tidak menghancurkan sumber penghidupan penduduk. Tindakan yang bijak adalah mengelola dan menata, bukannya menutup secara sepihak.
Kerjasama untuk Mewujudkan Kota yang Indah dan Estetik
Kerjasama antara pemerintah dan pengusaha sangat diperlukan untuk menciptakan kota yang indah. Dengan mengadakan pertemuan diskusi yang konstruktif, banyak ide dan solusi inovatif dapat muncul untuk menangani isu yang ada.
Situasi yang lebih harmonis jelas lebih bermanfaat bagi semua pihak. Menghindari pendekatan yang hanya bersifat represif, dan sebaliknya, mengedepankan dialog, akan membawa hasil yang lebih baik.
Di Banjarmasin, pemerintah dan pengusaha bisa bersama-sama menciptakan tata ruang yang lebih baik. Dengan pemikiran kreatif, mereka bisa menemukan keseimbangan antara kebutuhan estetika kota dan peluang ekonomi yang ada.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan semua pihak bisa mendapatkan keuntungan. Penduduk pun akan merasakan manfaat langsung dari langkah-langkah ini jika pekerjaan dan ekonomi lokal terjaga dengan baik.